POC EM4 hingga Kompos, KUKERTA Kelompok 25 Latih Warga Desa Cicaringin Olah Limbah Jadi Pupuk

waktu baca 4 menit
Selasa, 11 Agu 2026 22:10 0 42 Redaksi

LEBAK, SEPUTARBANTENID — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Kelompok 25 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten mengajak warga Desa Cicaringin, Kabupaten Lebak, mengolah limbah rumah tangga dan kotoran hewan menjadi pupuk organik.

Upaya tersebut dilakukan melalui Seminar dan Praktik Pemanfaatan Limbah Organik bertajuk “Optimalisasi Pemanfaatan Limbah Organik melalui Pembuatan Pupuk Organik yang Berkelanjutan” di Saung Baca Tarik Kolot (Taman Bacaan Masyarakat), Desa Cicaringin, Senin (10/8/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB itu diikuti warga desa setempat dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Hendri Hudiyanto, Dc. Aryadi, M.Pd., dan Dodi Hermawan.

Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya mendorong masyarakat melihat limbah organik bukan sekadar sampah, melainkan bahan yang dapat diolah menjadi pupuk sekaligus memiliki nilai ekonomis.

Mahasiswa KUKERTA Kelompok 25 memperkenalkan pemanfaatan berbagai limbah yang mudah ditemukan di lingkungan rumah, seperti sampah dapur dan kotoran ternak, untuk diolah menjadi pupuk organik.

Selama ini, sebagian limbah organik rumah tangga dan kotoran ternak di Desa Cicaringin masih dibuang tanpa pengolahan. Padahal, jika dikelola dengan metode yang tepat, limbah tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mendukung kebutuhan pupuk bagi pertanian warga.

Selain mengurangi timbunan limbah, pengolahan tersebut dinilai dapat menekan ketergantungan terhadap pupuk kimia dan membuka peluang ekonomi apabila dikembangkan secara berkelanjutan.

Pupuk Organik dari Kotoran Hewan dan Sampah Dapur

Materi pertama disampaikan oleh Dodi Hermawan yang mewakili Hendri Hudiyanto. Ia menjelaskan bahwa pupuk organik dapat dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar rumah, termasuk kotoran hewan dan sampah dapur.

Materi tersebut menjadi relevan dengan kondisi lahan di sekitar Desa Cicaringin yang dinilai memiliki tingkat kesuburan yang kurang optimal. Kondisi tanah tersebut turut memengaruhi pertumbuhan tanaman dan hasil pertanian warga.

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa penggunaan pupuk organik secara konsisten dapat membantu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.

Penggunaan bahan organik juga menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber persoalan lingkungan.

Pemateri juga menjelaskan mengenai dampak penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dalam jangka panjang yang dapat memengaruhi kondisi tanah. Karena itu, penggunaan bahan organik dinilai penting untuk membantu mengembalikan kualitas tanah secara bertahap.

Warga Didorong Konsisten Menggunakan Pupuk Organik

Materi berikutnya disampaikan Dc. Aryadi, M.Pd. Ia memperdalam pemahaman warga mengenai konsep, manfaat, serta pentingnya keberlanjutan dalam penggunaan pupuk organik.

Menurutnya, perbaikan kualitas tanah tidak dapat dilakukan secara instan. Penggunaan pupuk organik membutuhkan konsistensi karena proses pembentukan kembali struktur dan ekosistem tanah berlangsung secara bertahap.

Warga juga didorong mengubah pola pengelolaan pertanian dari praktik konvensional menuju pola yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi produktivitas pertanian saat ini, tetapi juga membantu menjaga kualitas lahan untuk jangka panjang.

Praktik Membuat POC EM4 dan Kompos

Tidak berhenti pada penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbasis EM4 dan kompos organik.

Dc. Aryadi, M.Pd., memandu langsung warga dalam mengikuti setiap tahapan pembuatan pupuk. Warga diperkenalkan pada proses pengolahan bahan, pencampuran, fermentasi, hingga penyimpanan dan pemanfaatan pupuk yang dihasilkan.

Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada warga agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada tataran teori.

Dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, warga diharapkan mampu membuat pupuk organik secara mandiri untuk kebutuhan pertanian maupun tanaman di lingkungan rumah.

Antusiasme warga terlihat saat mengikuti setiap tahapan praktik. Mereka turut menyimak penjelasan pemateri mengenai proses pembuatan serta cara penggunaan POC dan kompos agar dapat diterapkan secara tepat.

Didorong Jadi Kegiatan Berkelanjutan

Mahasiswa KUKERTA Kelompok 25 berharap kegiatan tersebut dapat mendorong perubahan kebiasaan warga dalam mengelola limbah rumah tangga.

Pengolahan limbah organik secara konsisten dinilai memiliki sejumlah manfaat, mulai dari mengurangi volume sampah, menekan biaya pembelian pupuk, membantu memperbaiki kualitas tanah, hingga membuka peluang usaha melalui produksi dan penjualan pupuk organik.

Lebih dari itu, program tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik bagi warga Desa Cicaringin untuk membangun pola pengelolaan lingkungan berbasis gotong royong.

Mahasiswa KUKERTA Kelompok 25 juga berharap keterampilan yang diperoleh warga dapat terus dipraktikkan setelah program KUKERTA berakhir, sehingga manfaat kegiatan tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan Desa Cicaringin.

Kontributor: Tania Cahayani, Sekretaris KUKERTA Kelompok 25 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (*)

LAINNYA