
Pengunjung mengamati peta zonasi Pasar Papringan yang dipasang di kawasan hutan bambu Desa Ngadiprono, Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026). Peta interaktif yang dikembangkan mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) tersebut dirancang untuk membantu pengunjung menemukan lokasi kuliner, fasilitas, dan berbagai titik aktivitas di area pasar. (Foto: Istimewa) SEPUTARBANTENID — Universitas Multimedia Nusantara (UMN) bersama Spedagi Movement menghadirkan peta interaktif berbasis zonasi di Pasar Papringan, Desa Ngadiprono, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, untuk membantu pengunjung menjelajahi kawasan pasar yang dikenal sebagai destinasi wisata berbasis komunitas dan kearifan lokal.
Peta tersebut diperkenalkan kepada publik melalui kegiatan bertajuk Susur Jejak Papringan yang digelar pada Minggu (31/5/2026). Program ini merupakan bagian dari Social Impact Initiative UMN yang berlangsung sejak 6 April hingga 6 Juni 2026.
“Peta pasar, khususnya mengenai kuliner, sangat membantu pengunjung menemukan kuliner yang diminati,” ujar dosen pembimbing program, Indiwan Seto.
Menurut dosen Ilmu Komunikasi UMN itu, pengembangan peta merupakan salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam menciptakan solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan pengunjung Pasar Papringan.
Peta interaktif tersebut dirancang oleh mahasiswa UMN, Jennyferlius Lis Fernanda, sebagai karya tugas akhir yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Spedagi Movement dan pengelola Pasar Papringan. Kehadirannya diharapkan mampu memperkuat sistem informasi dan navigasi bagi pengunjung melalui media signage yang lebih efektif.
Manfaat peta juga dirasakan oleh masyarakat setempat. Bagus Lukman Hakim, warga lokal, mengatakan keberadaan peta sangat membantu pengunjung yang baru pertama kali datang ke Pasar Papringan.
“Pengunjung itu banyak pendatang baru. Mereka belum tahu lokasi pelapak atau penjual itu di mana, jadi lebih mempermudah,” katanya.
Pasar Papringan sendiri lahir dari inisiatif Spedagi Movement untuk menghidupkan kembali kawasan hutan bambu yang selama ini kurang terawat dan kehilangan fungsi sosial maupun ekologisnya. Melalui konsep pasar rakyat berbasis komunitas, kawasan bambu disulap menjadi ruang ekonomi, budaya, dan edukasi yang melibatkan masyarakat desa secara aktif.

Mahasiswa UMN menyerahkan suvenir kepada peserta Susur Jejak Papringan usai menyelesaikan rangkaian eksplorasi di Pasar Papringan, Temanggung, Minggu (31/5/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengenalan peta zonasi yang dikembangkan untuk memudahkan navigasi pengunjung. (Foto: Istimewa)
Setiap gelaran Pasar Papringan menghadirkan sekitar 130 jenis kuliner tradisional, mulai dari makanan berat, jajanan pasar, hingga minuman khas daerah. Salah satu yang paling dikenal adalah Wedang Pring, minuman berbahan daun bambu yang menjadi ikon pasar tersebut.
Selain menikmati kuliner, pengunjung juga dapat mengakses berbagai fasilitas lain seperti playground, area gamelan, ruang baca, serta sejumlah aktivitas budaya yang menjadi daya tarik tersendiri.
Namun luasnya area pasar kerap membuat pengunjung kesulitan menemukan lokasi tertentu. Berdasarkan observasi yang dilakukan mahasiswa selama menjalankan program Social Impact Initiative, banyak pengunjung masih harus bertanya untuk menemukan pelapak maupun fasilitas yang tersedia.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim perancang membagi kawasan Pasar Papringan ke dalam tiga zona utama. Zona 1 mencakup area teller hingga playground, Zona 2 meliputi area kerajinan dan kuliner 1, sedangkan Zona 3 mencakup area kuliner 2.
Dalam proses perancangannya, tim menemukan bahwa posisi lincak atau lapak pedagang dapat berubah pada setiap gelaran pasar. Karena itu, digunakan sistem pin kayu yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan sehingga informasi pada peta dapat diperbarui dengan mudah tanpa mengurangi fungsinya sebagai media navigasi.
Peta tersebut kemudian diaktivasi melalui kegiatan Susur Jejak Papringan, sebuah aktivitas eksplorasi yang mengajak pengunjung menelusuri berbagai titik lokasi di Pasar Papringan dengan bantuan peta. Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengenal area non-kuliner sekaligus mengunjungi sejumlah lincak pilihan.
Lima kuliner khas yang menjadi bagian dari rute eksplorasi adalah Wedang Pring, Dawet Anget, Lentho, Klenyem, dan Bajingan. Selain pengalaman menjelajah pasar, peserta juga memperoleh souvenir berupa tepung mocaf berbahan dasar singkong serta mini sertifikat sebagai bentuk apresiasi.
Kegiatan yang digelar pada Pasar Papringan Minggu Pon, 31 Mei 2026, itu diikuti 21 peserta yang terdiri atas pengunjung umum dan anak-anak warga setempat. Selain peserta kegiatan, banyak pengunjung lain turut memanfaatkan tiga peta zonasi yang dipasang di sejumlah titik strategis pasar.
Melalui kolaborasi antara UMN dan Spedagi Movement ini, peta interaktif tidak hanya menjadi sarana navigasi bagi pengunjung, tetapi juga mendukung upaya pengembangan Pasar Papringan sebagai destinasi wisata berbasis komunitas yang ramah, edukatif, dan berkelanjutan. (Ril)