Suasana di Bandara. JAKARTA, SEPUTARBANTEN.ID – DPR RI menyoroti mahalnya harga tiket pesawat yang dinilai kian membebani masyarakat. Kebijakan diskon musiman saat Lebaran dan Natal–Tahun Baru (Nataru) dianggap belum mampu menyelesaikan persoalan secara mendasar.
Anggota DPR RI Lazarus menegaskan, tingginya harga tiket pesawat bukan semata-mata kesalahan maskapai, melainkan dipengaruhi kebijakan pemerintah yang membentuk struktur biaya penerbangan.
“Penurunan harga tiket pesawat itu domain pemerintah. Ada banyak komponen kebijakan yang membuat tiket di Indonesia mahal dan ini tidak pernah diselesaikan secara serius,” ujar Lazarus, Rabu (11/2/2026).
Ia mengungkapkan setidaknya tiga faktor utama penyebab mahalnya harga tiket. Pertama, harga avtur di Indonesia yang relatif tinggi dibandingkan negara lain dan masih dikenakan pajak. Kedua, transportasi udara yang masih dikategorikan sebagai barang mewah sehingga tiket pesawat dikenai pajak barang mewah. Ketiga, tingginya pajak dan bea masuk suku cadang pesawat yang berdampak pada meningkatnya biaya operasional maskapai.
“Kalau pesawat masih dianggap barang mewah, jangan heran tiketnya mahal. Padahal bagi masyarakat di banyak daerah, pesawat adalah satu-satunya akses mobilitas,” tegasnya.
Menurut Lazarus, apabila pemerintah serius ingin menurunkan harga tiket, langkah konkret yang perlu diambil adalah memangkas pajak avtur, menghapus pajak barang mewah tiket pesawat, serta menurunkan bea masuk suku cadang.
“Dampaknya akan langsung terasa pada harga tiket. Bukan sekadar diskon sesaat saat musim tertentu,” ujarnya.
Ia menilai kebijakan diskon musiman bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar masalah. Padahal, mahalnya tiket pesawat sudah menjadi keluhan luas masyarakat, terutama karena harga di Indonesia dinilai lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara lain.
“Ini menyangkut hajat hidup orang banyak dan berdampak pada kesejahteraan rakyat. Jangan hanya ramai saat Lebaran dan Nataru,” katanya.
Sejumlah penumpang juga menyampaikan keluhan serupa. Ahmad mengaku diskon tiket yang diberikan pemerintah hanya berlaku sementara dan tidak merata.
“Diskon ada, tapi sebentar. Setelah itu harga kembali mahal,” ujarnya.
Penumpang lain, Yudistira, berharap pemerintah menghadirkan kebijakan permanen agar harga tiket pesawat kembali terjangkau seperti sebelum pandemi Covid-19.
“Dulu naik pesawat itu wajar dan terjangkau. Sekarang terasa mahal lagi. Harus ada kebijakan permanen, bukan tambal sulam,” katanya. (*)

