PSI Masih 1,9 Persen, Blusukan Jokowi Belum Beri Efek Elektoral

waktu baca 3 menit
Sabtu, 8 Agu 2026 15:44 0 83 Redaksi

JAKARTA, SEPUTARBANTENID— Elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) masih berada di angka 1,9 persen, meski Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) belakangan aktif melakukan blusukan dan roadshow ke sejumlah daerah.

Temuan tersebut berdasarkan hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 27 Juli hingga 3 Agustus 2026. Hasil survei menunjukkan aktivitas politik Jokowi sejauh ini belum memberikan efek elektoral yang signifikan terhadap perolehan dukungan PSI.

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan elektabilitas PSI relatif stagnan dalam sekitar satu setengah tahun terakhir. Angka 1,9 persen tersebut tidak mengalami perubahan berarti meski Jokowi aktif melakukan roadshow.

“Partai Solidaritas Indonesia tidak mengalami perubahan di satu setengah tahun ini. Masih tetap di 1,9 persen, meskipun Joko Widodo melakukan roadshow ke sejumlah daerah,” kata Dedi saat memaparkan hasil survei IPO di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Dalam simulasi pilihan partai politik untuk DPR RI, PSI berada di posisi kesembilan. Partai tersebut masih tertinggal dari delapan partai politik lain yang memperoleh elektabilitas lebih tinggi.

PSI Dikenal 70,2 Persen Publik

Di tengah rendahnya elektabilitas, tingkat pengenalan publik terhadap PSI justru tergolong cukup tinggi.

Survei IPO mencatat 70,2 persen responden mengaku mengetahui atau pernah melihat logo PSI. Namun, tingkat pengenalan tersebut belum otomatis berubah menjadi dukungan politik.

Dalam simulasi pilihan partai untuk DPR RI, PSI hanya memperoleh 1,9 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya jarak cukup lebar antara tingkat pengenalan publik dan elektabilitas PSI.

Dengan kata lain, tantangan PSI bukan semata membuat masyarakat mengenal partai tersebut. Persoalan berikutnya adalah bagaimana mengubah pengenalan menjadi kepercayaan dan pilihan politik. Manusia memang mampu mengenali sesuatu tanpa merasa perlu memilihnya, sebuah kebiasaan yang cukup konsisten dalam politik.

Efek Blusukan Jokowi Belum Terlihat

Dedi mengatakan belum terlihatnya kenaikan elektabilitas PSI bukan berarti aktivitas Jokowi tidak akan memberikan dampak pada masa mendatang.

Menurut dia, pengaruh roadshow Jokowi bisa saja baru terlihat setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai atau dalam periode yang lebih panjang.

“Mungkin dampaknya baru terlihat setelah roadshow selesai, atau dalam satu tahun ke depan. Kalau dilakukan secara konsisten, bisa saja elektabilitasnya naik,” ujar Dedi.

Dengan demikian, hasil survei IPO periode ini belum menjadi ukuran akhir mengenai dampak politik aktivitas Jokowi terhadap PSI. Efek tersebut masih mungkin terlihat dalam survei berikutnya apabila roadshow dilakukan secara konsisten.

Gerindra Teratas, PSI Masih di Posisi Kesembilan

Dalam simulasi elektabilitas partai politik, Gerindra berada di posisi teratas dengan 17,5 persen.

PDI Perjuangan menyusul dengan 12,8 persen, kemudian Golkar 10,4 persen dan Demokrat 8,1 persen.

Selanjutnya, PKB memperoleh 7,0 persen, PAN 5,1 persen, PKS 4,6 persen, dan NasDem 4,4 persen.

PSI berada di posisi berikutnya dengan elektabilitas 1,9 persen.

Dengan demikian, terdapat delapan partai politik yang memiliki elektabilitas lebih tinggi dibandingkan PSI dalam simulasi IPO.

Metodologi Survei IPO

Survei IPO menggunakan metode multistage random sampling. IPO terlebih dahulu menentukan Primary Sampling Unit (PSU) pada sejumlah kelurahan atau desa, kemudian memilih RT secara acak menggunakan random Kish grid paper.

Pada setiap RT dipilih dua keluarga secara acak. Dari masing-masing keluarga kemudian dipilih satu responden yang memenuhi syarat, yakni berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.

Komposisi responden laki-laki dan perempuan ditetapkan masing-masing 50 persen.

Survei dilaksanakan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden. Tingkat kepercayaan survei mencapai 95 persen dengan margin of error sekitar ±2,9 persen. (*)

LAINNYA